PRAJURIT KOPASSUS DARI PAPUA YANG “MEMBENTAK” PRABOWO, BUKTI KEPERCAYAAN DAN REALITAS MEDAN

Wasantaranews.com | Jakarta — Dalam catatan sejarah operasi militer Indonesia, ada satu kisah yang menarik perhatian banyak pihak — tentang seorang prajurit Kopassus asal Papua yang bukan hanya menunjukkan keberanian ekstrem di medan perang, tetapi juga sempat menjawab langsung komando atasannya dengan kata-kata tegas yang terekam dalam memoir dan pembicaraan mantan atasannya, Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto.

Kisah itu terjadi di pucuk Operasi Mapenduma, sebuah operasi militer yang dirancang untuk membebaskan para peneliti dari Ekspedisi Lorentz ’95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah pegunungan Jayawijaya, Papua pada Januari–Mei 1996. Operasi ini dipimpin langsung oleh Brigjen Prabowo Subianto selaku Komandan Jenderal Kopassus pada saat itu.

Di tengah medan yang sangat berat — penuh hutan, suhu dingin, dan kontur ekstrem — salah satu prajurit Kopassus yang menonjol adalah Darius Bayani, putra asli Papua yang saat operasi berpangkat Sersan Mayor (kemudian Letnan Dua). Bayani dikenal karena kemampuan membaca medan, ketahanan fisik, dan keberanian luar biasa yang membuatnya menjadi sosok penting di tim tempur.

Menurut pengakuan Prabowo yang kemudian tertuang dalam pembicaraan dan tulisannya, pada suatu titik Bayani tidak kunjung kembali melapor sesuai jadwal. Ketika Prabowo menelepon untuk menanyakan progresnya, Bayani yang sedang dalam kondisi ekstrem — rambutnya sudah tertutup es karena suhu dingin di gunung — sempat menjawab dengan gaya tegas: “Kenapa Bapak tidak ke sini saja? Lebih baik Bapak datang dan lihat sendiri.” Momen itu membuat Prabowo terdiam dan kemudian memutuskan memberi ruang istirahat bagi prajuritnya.

Kisah ini bukan sekadar anekdot tentang “pembentakan” kepada atasan berpangkat jauh lebih tinggi, tetapi lebih merefleksikan realitas medan dan rasa saling menghormati pengalaman. Bayani bukan digambarkan sebagai prajurit nakal, tetapi sebagai sosok yang begitu yakin akan situasi ekstrem yang dihadapinya, sehingga ia merasa cara paling efektif adalah meminta komandannya sendiri melihat langsung fakta di lapangan.

Peran Bayani — yang lengkap dengan kemenangan taktis seperti infiltrasi ke markas musuh dan keberhasilan membawa kembali senjata musuh dalam jumlah signifikan menurut beberapa narasi — kemudian dihormati secara resmi pada 2025 ketika Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Sakti kepada Darius Bayani di Pusdiklatpassus Kopassus, Jawa Barat. Penghargaan ini mencerminkan jasa besar Bayani dalam sejarah operasi tersebut.

( Chris Andries )